
Burung Gereja Eurasia atau Passer montanus merupakan salah satu burung kecil paling mudah ditemukan di Indonesia. Burung ini dikenal luas dengan sebutan burung gereja, burung pipit kota, atau sparrow Eurasia. Meski terlihat sederhana, spesies ini memiliki sejarah penyebaran yang panjang dan menarik, terutama bagaimana mereka bisa hadir hingga ke Asia Tenggara dan Indonesia.
Dalam dunia pengamatan burung, Passer montanus termasuk salah satu spesies paling sukses beradaptasi dengan lingkungan manusia. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat perkotaan, pasar tradisional, area persawahan, hingga kawasan pelabuhan.
Asal Usul Burung Passer montanus
Secara ilmiah, burung gereja Eurasia berasal dari kawasan Eurasia, yaitu wilayah yang mencakup Eropa, Asia tengah, Siberia, China, Jepang hingga sebagian Asia Timur.
Burung ini sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu sebagai spesies yang dekat dengan aktivitas manusia. Ketika peradaban manusia berkembang melalui pertanian dan perdagangan biji-bijian, populasi Passer montanus ikut berkembang pesat.
Nama “Eurasia” sendiri berasal dari wilayah penyebaran alaminya yang sangat luas di benua Eropa dan Asia.
Bagaimana Burung Gereja Bisa Sampai ke Indonesia?
Penyebaran burung gereja Eurasia ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diyakini terjadi melalui jalur perdagangan kuno dan era kolonial. Pada masa tersebut, kapal dagang membawa gandum, bibit padi, jagung serta hasil pertanian lainnya.
Burung gereja sering mengikuti aktivitas manusia karena tertarik pada sumber makanan di pelabuhan dan gudang penyimpanan. Sebagian ahli percaya bahwa spesies ini ikut terbawa kapal-kapal dagang dari daratan Asia menuju wilayah Nusantara.
Setelah tiba di Indonesia, Passer montanus mampu beradaptasi dengan sangat cepat karena:
- iklim tropis yang mendukung,
- banyaknya sumber makanan,
- lingkungan perkotaan yang padat,
- serta minim predator di area urban.
Kini burung gereja telah menjadi bagian umum dari ekosistem perkotaan Indonesia dan sering dianggap sebagai burung asli, meskipun sebenarnya merupakan spesies introduksi.
Ciri-Ciri Burung Passer montanus
Burung gereja Eurasia memiliki ukuran tubuh kecil sekitar 12–14 cm dengan warna dominan cokelat dan abu-abu. Ciri khas utamanya adalah:
- pipi putih dengan bercak hitam,
- mahkota kepala cokelat kemerahan,
- paruh pendek dan kuat,
- serta suara cicit yang khas.
Makanan utama burung ini adalah:
- biji-bijian,
- padi,
- serangga kecil,
- dan sisa makanan manusia.
Karena mudah menemukan makanan di sekitar manusia, populasi mereka terus bertambah di kawasan perkotaan.
Habitat dan Persebaran di Indonesia
Di Indonesia, burung gereja Eurasia paling mudah ditemukan di beberapa lahan pertanian dan peternakan, pasar tradisional, pemukiman padat hingga kota-kota besar. Namun, Populasi terbesar burung gereja (passer montanus) berada di pulau Jawa. Mengapa demikian? kepadatan penduduk, aktivitas perdagangan, serta lingkungan urban sangat cocok bagi burung gereja tinggal.
Dilansir dari Mongabay. burung gereja adalah makhluk yang cepat beradaptasi di lingkungan manusia. Jika makanan di alam sulit ditemukan, mereka akan mencari alternatif lain di tempat masyarakat tinggal. Sifatnya yang omnivora membuat burung tersebut tidak memilih makanan, perkembang biakkan pun lebih cepat, dengan hidup berkelompok. Mereka juga suka membuat sarang di antara celah bangunan. Akibat sedikitnya predator alami di perkotaan membuat populasi burung gereja lebih banyak di sekitar perkotaan.
Selain Jawa, burung ini juga banyak ditemukan di:
- Bali,
- Sumatra,
- dan beberapa kota besar di Kalimantan serta Sulawesi.
Namun kepadatannya tidak setinggi di wilayah urban Pulau Jawa. Meski memiliki tubuh kecil, burung gereja mengajarkan kepada kita jika terdapat hewan yang berjarak sangat jauh mampu beradaptasi terhadap alam yang ditinggalinya. Dengan adanya satwa tersebut juga, menjadi tanda bahwa perjalanan panjang yang dilakukan manusia dalam menjelajahi dunia hingga sampai ke Asia Tenggara yaitu Indonesia.
