
Pada dunia kesehatan internasional, hantavirus kembali menjadi sorotan setelah sebelumnya timbul berita tentang munculnya wabah virus di kapal ekspedisi kutub MB Hondius pada awal Mei 2026. Akibat insiden ini timbul perhatian global setelah terdapat berberapa kematian dan penyebarannya di dalam kapal. mengingatkan pada Covid-19 yang sebelumnya mengancam dunia dengan resiko kematian yang cukup tinggi.
Mengutip informasi dari Wikipedia terkait kronologi hantavirus yang ditemukan di Kapal MV Hondius. saat itu sedang berangkat dari Ushuaia, Argentina dengan tujuan wisata ekspedisi menuju kawasan Antartika dan Atlantik Selatan. Peristiwa terjadi pada 6 April saat seorang penumpang yang saat itu mulai mengalami gejala yang dikira oleh tim medis di dalam kapal. ia hanya mengalami penyakit biasa dan hingga 11 April, pasien yang saat itu sakit dinyatakan meninggal dunia di atas kapal. Selang beberapa lama, penumpang lainnya ikut terserang gejala serupa yaitu demam tinggi, sesak napas, nyeri otot dan gangguan pernapasan berat.
World Health Organization (WHO) dalam pernyataan resmi mengirimkan tim ahli langsung ke tempat kejadian untuk melakukan pemeriksaan dan asesmen medis terhadap seluruh penumpang dan kru yang berada di atas kapal. WHO mengidentifikasi bahwa wabah tersebut mempunyai keterkaitan dengan strain Andes hantavirus, yaitu salah satu jenis hantavirus langka dikarenakan mempunyai kemampuan penularan terhadap manusia dengan manusia melalui kontak. Masih di bulan yang sama, sedikitnya, dilaporkan tiga orang menninggal ditempat.
Setelah sebelumnya terdapat kejadian mengenai munculnya hantavirus, MV Hondius sempat dikarantina karena ditolak untuk berlabuh di beberapa negara akibat kekhawatiran virus tersebut akan mengancam masyarakat. Dugaan investigasi awal yang di sampaikan melalui The Guardian, bahwa penularan berasal dari paparan kontaminasi urine tikus di kotoran atau debu selama aktivitas wisata alam di Amerika Selatan.
Sejarah Pertama Kali Hantavirus Ditemukan
Nama “Hantavirus” diambil dari sungai Hantan di Korsel yang merupakan tempat pertama kali ditemukannya virus tersebut pada 1950an ketika Perang Korea berlangsung. Saat peristiwa perang berlangsung, banyak tentara mengalami demam berat disertai gagal ginjal misterius. Penelitian kemudian menemukan bahwa penyakit tersebut berasal dari virus yang dibawa tikus liar.
Virus baru dikenal luas dalam dunia medis sekitar 1978 ketika ilmuan asal Korsel, Ho-Wang Lee, berhasil mengisolasi virus dari tikus lapangan dan hingga saat itu, berbagai jenis hantavirus ditemukan di Asia, Eropa hingga Amerika.
Bagaimana Hantavirus Menyebar?
Penularan paling umum terjadi ketika manusia menghirup partikel udara ataupun benda yang sudah terkontaminasi dengan urine, air liur ataupun kotoran tikus yang mengering.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), beberapa jenis hantavirus tidak mudah menular antarmanusia, namun srain Andes virus yang ditemukan di Amerika Selatan memiliki kemampuan menular melalui kontak erat dalam waktu lama di lingkungan yang tertutup.
Pada kasus terjangkitnya, korban dapat mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual dan kelelahan layaknya flu biasa. Namun, untuk kasus berat, virus dapat menyerang paru-paru, tingkat kematian HPS bahkan dapat mencapai 40 persen bila terlambat melakukan penanganan.
Obat dan Penanganannya
HIngga saat ini, para tenaga ahli berusaha melakukan pencegahan timbulnya virus tersebut dengan melakukan pengendalian terhadap tikus, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan masker saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus serta menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat liar.
Karena belum ada obat khusus ataupun vaksin yang secara langsung mampu menyembuhkan hantavirus secara spesifik. CDC menjelaskan bahwa penanganan utama masih berupa perawatan suportif, termasuk pemberian oksigen, cairan dan bantuan ventilator pada pasien dengan gangguan paru-paru berat.
