
Di sudut paling ujung Pulau Jawa, terdapat harta karun berharga yang sudah hidup dan menjadi endemic disana. ia adalah Badak Jawa Bernama latin (Rhinoceros sondaicus) termasuk mamalia besar purba yang mendiami wilayah Ujung Kulon. Namun, nyaris tak pernah terlihat oleh manusia dan memegang gelar sebagai salah satu spesies paling langka dan pastinya terancam punah. Akan sangat beruntung bila menemukan jejaknya saja di alam liar, apalagi jika berpapasan dengan mamalia tersebut.
Mengapa raksasa ini sulit ditemukan? dan berapa populasi mereka yang bertahan hingga saat ini? Kami akan membahas rangkaiannya di Bawah.
1. Berapa banyak Badak Jawa yang masih Hidup hingga saat ini?
Dalam beberapa tahun terakhir, belantara Ujung kulon memberikan informasi terhadap Badak Jawa yang ditemui. Temuannya itu direkam dalam kamera jebak yang menampilkan aktivitas Mamalia besar ini. Hal ini menjadi harapan sekaligus pengingat bagi masyarakat Indonesia betapa rentan populasinya. Berdasarkan data pemantauan pada rentang 2024 hingga 2025, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa populasi Badak Jawa tersisa sekitar 87 hingga 100 individu.
Sebelumnya pada April 2024 terekam populasi sempat menunjuk angka 82 individu setelah kamera jebakan mengambil gambar kelahiran anak badak baru. Karena itu, harapan muncul bahwa satwa liar ini masih sanggup bereproduksi secara alami di habitat aslinya. Meski begitu, angka dibawah 100 individu masih terbilang sangat terancam.
Peneliti mengakui dalam menemukan badak di alam liar butuh effort. Penggunaan puluhan kamera jebak bersensor gerak di pasang di titik-titik trategis seperti jalur lintas satwa, area kubangan atau titik mereka sering mencari makan. Penghitungan juga memerlukan ketelitian agar jumlah populasi tidak terhitung ganda, peneliti memastikan corak lipatan kulit, ukuran cula maupun bekas luka diidentifikasi.
2. Status Konservasi
Badak Jawa ermasuk hewan yang sangat dilindungi, mengingat populasinya sangat kecil dan terus tertekan seiring Waktu. Maka dari itu, badak jawa memegang status konservasi dengan tingkat ancaman tertinggi di dunia.
- International Union for Conservation of Nature (IUCN) sejak tahun 1996 menetapkah status Badak Jaw sebagai Critically Endangered (Terancam punah). Level ini merupakan ambang batas terakhir sebelum sebuah spesies dinyatakan punah di alam liar.
- Badak juga terdaftar apendiks I pada Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), yang artinya segala bentuk perdagangan internasional terhadap satwa ini maupun bagian tubuhnya dilarang keras untuk diperjual belikan.
- Hewan ini juga termasuk dalam perlindungan oleh Undang-undang no.5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
3. Awal Persebaran
Ahli satwa liar dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor menuturkan persebaran Badak Jawa hingga Vietnam, tetapi dinyatakan punah pada 1970-an. Satu-satunya habitat alami yang tersisa di seluruh dunia hanyalah tersisa Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang terletak di Ujung barat provinsi Banten. Area ini cocok karena hutan hujan tropis dataran rendah serta faktor geografisnya yang memberikan perlindungan bagi sisa populasi tersebut.
4. Ciri-Ciri Badak Jawa
Mereka memiliki penampilan berupa kulit tebal berwarna abu-abu dan memiliki lipatan sekitar leher, bahu dan pinggul. Dengan panjang tubuh berukuran 3 meter dan tinggi mencapai 1,7 meter. Bobotnya bisa mencapai hingga 2.300 kg. Hal yang paling uniknya adalah Badak Jawa memiliki cula satu (tidak bercabang)
Perilaku pemalu serta kebiasaan suka berendam dilumpur menjadi alasan mengapa hewan ini sulit ditemukan di habitat aslinya. Karena ia terkesan waspada dan soliter yakni suka menyendiri. Penciuman dan pendengaran yang tajam memperkuat mereka dalam mengetahui makhluk lain sehingga akan menyingkir ke hutan yang lebih dalam.
Karena perilaku suka berendam dilumpur, ia dapat menghabiskan waktu berjam-jam dikubangan dengan tujuan mendinginkan suhu tubuh.
5. Apa penyebab Ambang Kepunahannya?
Sekarang Badak Jawa mengalami status sangat terancam punah, nasib di ujung tanduk ini bukan tanpa alasan. Karena berbagai faktor turut andil dalam mengancam individu dan habitat hewan tersebut.
- Pada 1988 muncul rumor bahwa cula badak memiliki khasiat medis mujarab sehingga perburuan liar terjadi di masa lampau.
- Ancaman bencana alam seperti yang terjadi hingga sekarang. Di Indonesia, faktor alam seperti Gunung Anak Krakatau, erupsi vulkanik berskala besar dan Tsunami menjadi faktor pengurangan populasi badak.
- Mengutip informasi mengenai Badak dari nationalgeographic, Adanya interaksi tak langsung dari satwa liar lain terhadap ternak milik warga, di batas taman nasional memunculkan ancaman penularan penyakit mematikan seperti Septicaemia epizsootica.
6. Upaya Konservasi dan Harapan Masa Depan
Masifnya ancaman dari perbuatan manusia, membuat upaya lebih dilakukan pemerintah. Patroli pengamanan hutan 24 jam dikerahkan untuk membersihkan jerat liar pemburu yang tidak bertanggung jawab. KLHK bersama ahli konservasi lainnya kini memprioritaskan pencarian habitat ke dua untuk hewan tersebut.
Konsep bertujuan memindahkan sebagian Badak Jawa ke area hutan baru di luar Ujung Kulon sehingga terhindar dari bencana alam serta memberikan peluang makanan yang lebih berlimbah demi memastikan keberlangsungan hidup Satwa langka tersebut.
